SALAM BUDAYA
Wednesday, 7 December 2011
Tuesday, 13 September 2011
PUISI
MATI
Saat tubuh tak lagi bergerak
Nafas tak lagi berhembus
Jantung tak lagi berdetak
Nadi tak lagi berdenyut
Saat itulah ajal datang menjemput
Menyurut seluruh semangat hidup
Tak ada lagi hiruk pikuk keramaian dunia
Tak ada lagi sedu sedan tangis
Tak ada lagi canda tawa
Semua tinggal pertanggung jawaban
Atas apa yang telah kita lakukan
Ya Tuhan…
Berikanlah kebaikan kepada hamba
Untuk di akhir masa
Kehidupan dunia
Yang penuh kebohongan semata
Enggar Tata
6 september 2011
Peserta LSDP 5 Bantul Yogyakarata
Sunday, 31 July 2011
proses kreatif Teater Payung Hitam
Wednesday, 27 April 2011
BIBIKKU
BIBIKKU
Terasa sunyi tanpa geliat bekas tilas langkahmu
terasa senyap tanpa nyanyian suara khasmu
terasa hampa tanpa bayangan klasikmu
terasa bingung tanpa kata kata mutiaramu
terasa gelap tanpa sinar cahaya mauidlohmu
selain orangtuaku
kau juga guruku
selain sahabatku
kau juga kekasihku
selain bibikku
kau juga ibuku
sampei saat inipun aku tak percaya
apakah benar kau telah tiada
hanya untaian doa yang dapat kubaca
semoga kau tenang dialam sana
tuhan
ampunilah salah dan dosanya
terimalah amal ibadahnya
dan tempatkanlah dia disinggasana mulia.
Munawar DK. Teater DAS '51 STAIDA. Blokagung
Terasa sunyi tanpa geliat bekas tilas langkahmu
terasa senyap tanpa nyanyian suara khasmu
terasa hampa tanpa bayangan klasikmu
terasa bingung tanpa kata kata mutiaramu
terasa gelap tanpa sinar cahaya mauidlohmu
selain orangtuaku
kau juga guruku
selain sahabatku
kau juga kekasihku
selain bibikku
kau juga ibuku
sampei saat inipun aku tak percaya
apakah benar kau telah tiada
hanya untaian doa yang dapat kubaca
semoga kau tenang dialam sana
tuhan
ampunilah salah dan dosanya
terimalah amal ibadahnya
dan tempatkanlah dia disinggasana mulia.
Munawar DK. Teater DAS '51 STAIDA. Blokagung
NGAJI IHYA'
NGAJI IHYA'
Aku tersipu duduk menghadap kiblat dihadapanmu
Membiarkan indra khawasiku liar dan larut dalam gaun sucimu
mataku melihatmu
hidungku mencium kasturi misikmu
telingaku menangkap qoul-qoul hikmahmu
sampei mrinding bulu dalam hamparan kulitku.
Dengan lantang jari jemariku berirama
dari arah kanan mengukir pegon kata kata
dengan tinta hitam yang melekat erat
sebagai bukti kau tetap salaf selamanya
ABAH.....
Benarkah tinta hitamku menjadi saksi
benarkah tinta hitamku mampu membelaku
benarkah tintaku menjadi darah syuhada'
para pejuang islam yang gugur menegakkan agamaNYA.
Munawar DK.Teater DAS '51. STAIDA.
Aku tersipu duduk menghadap kiblat dihadapanmu
Membiarkan indra khawasiku liar dan larut dalam gaun sucimu
mataku melihatmu
hidungku mencium kasturi misikmu
telingaku menangkap qoul-qoul hikmahmu
sampei mrinding bulu dalam hamparan kulitku.
Dengan lantang jari jemariku berirama
dari arah kanan mengukir pegon kata kata
dengan tinta hitam yang melekat erat
sebagai bukti kau tetap salaf selamanya
ABAH.....
Benarkah tinta hitamku menjadi saksi
benarkah tinta hitamku mampu membelaku
benarkah tintaku menjadi darah syuhada'
para pejuang islam yang gugur menegakkan agamaNYA.
Munawar DK.Teater DAS '51. STAIDA.
NARIAHAN
NARIAHAN
sunyi senyap tiba tengah malam
bergegas lenyap dari tidur ku
berjalan senyap tuk ambil air wudlu
jam-jam yang tampak biaskan kenangan
sujud merunduk menghadap Tuhan
dua malaikat datang
menengok diam-diam
semakin malam ia semakin paham
aku yang buta di pilunya dunia
ingin merangka' tangga-tangga kebesara-Nya
kenangan dan air mata menyatu dalam darah
tanggalkan baju bersimbahkan tanah
pecinta sastra STAIDA PBSI 09
MK ANWAR
sunyi senyap tiba tengah malam
bergegas lenyap dari tidur ku
berjalan senyap tuk ambil air wudlu
jam-jam yang tampak biaskan kenangan
sujud merunduk menghadap Tuhan
dua malaikat datang
menengok diam-diam
semakin malam ia semakin paham
aku yang buta di pilunya dunia
ingin merangka' tangga-tangga kebesara-Nya
kenangan dan air mata menyatu dalam darah
tanggalkan baju bersimbahkan tanah
pecinta sastra STAIDA PBSI 09
MK ANWAR
DARUSSALAMKU
DARUSSALAMKU
Pagiku hilang. .
Siangku melayang.
Senjakupun menghilang.
Aku terpukul rasa lelah lalu jatuh bersama bisunya waktu.
Begitu brisik gemuruh nazom-nazom Al-fiyah membuai merdu.
0h. . . ..
Darussalamku. .
Masih banyakkah santri-santri menghafal nazh0m-MU..
Atau seperti dimana-mana hilang salafnya dan tinggal kholafnya.
Munawar DK.Teater DAS '51 STAIDA Blokagung.
Pagiku hilang. .
Siangku melayang.
Senjakupun menghilang.
Aku terpukul rasa lelah lalu jatuh bersama bisunya waktu.
Begitu brisik gemuruh nazom-nazom Al-fiyah membuai merdu.
0h. . . ..
Darussalamku. .
Masih banyakkah santri-santri menghafal nazh0m-MU..
Atau seperti dimana-mana hilang salafnya dan tinggal kholafnya.
Munawar DK.Teater DAS '51 STAIDA Blokagung.
IBU DAN ANAK
IBU DAN ANAK
Suara desir kau menangis kian keras menghantam dadaku.
Sesak kian sesak aku merasakan hadirnya.
Gemricik air matamu kian keras menekan denyut nadiku.
Tak kuasa jari jemariku berirama membelai kedua matamu karna kau terlalu jauh.
Kabar yang kutanyakan tak mampu kau jawab sempurna karna jarak yang
kian jauh dan patahan nafasmu yang bisa kuberi makna.
Angin berdengung lewat jendela memecahkan gendangan masa laluku.
Kemudian kepalaku terbenam bersama waktu.
IBU. . . aku rindu kau. . . .
Munawar DK. Teater DAS '51 STAIDA Blokagung
Suara desir kau menangis kian keras menghantam dadaku.
Sesak kian sesak aku merasakan hadirnya.
Gemricik air matamu kian keras menekan denyut nadiku.
Tak kuasa jari jemariku berirama membelai kedua matamu karna kau terlalu jauh.
Kabar yang kutanyakan tak mampu kau jawab sempurna karna jarak yang
kian jauh dan patahan nafasmu yang bisa kuberi makna.
Angin berdengung lewat jendela memecahkan gendangan masa laluku.
Kemudian kepalaku terbenam bersama waktu.
IBU. . . aku rindu kau. . . .
Munawar DK. Teater DAS '51 STAIDA Blokagung
rintihan hati
RINTIHAN HATI
Hati. . .
Hati bagai air yang menggenang ditengah-tengah rerumpunan rumput
ranting pohon-pohon yang berjejer ditengah gelap gulitanya hutan.
Jernih bening dan tidaknya tergantung parit-parit kecil yg
menjulur-julur dalam perut air tersebut.
Taukah kamu. . .
Parit-parit tersebut adalah organ-organ tubuh yang selalu bergelimang
dalam dosa.
Tuhan. . .
Bersihkanlah parit-paritkami dari nafsu-nafsu yg tak bertanggung jawab ini.
Kelak hati kami tidak seperti comberan sampah busuk dan anyir yang
menyiksa diri.
Munawar DK.Teater DAS '51 STAIDA Blokagung
Hati. . .
Hati bagai air yang menggenang ditengah-tengah rerumpunan rumput
ranting pohon-pohon yang berjejer ditengah gelap gulitanya hutan.
Jernih bening dan tidaknya tergantung parit-parit kecil yg
menjulur-julur dalam perut air tersebut.
Taukah kamu. . .
Parit-parit tersebut adalah organ-organ tubuh yang selalu bergelimang
dalam dosa.
Tuhan. . .
Bersihkanlah parit-paritkami dari nafsu-nafsu yg tak bertanggung jawab ini.
Kelak hati kami tidak seperti comberan sampah busuk dan anyir yang
menyiksa diri.
Munawar DK.Teater DAS '51 STAIDA Blokagung
Thursday, 31 March 2011
PUISI RENUNGAN UNTUK ISMAIL
RENUNGAN UNTUK ISMAIL
Ismail
sudah terlalu sering mulut mu berkata,
Bahwa sholatmu, Ibadah mu, Hidupmu, dan matimu hanya kau anugrahkan kepada tuhan mu
atau kata – kata suci itu adalah
tameng yang kau gunakan untuk menutupi gunung salahmu
atau sudah pernahkah hatimu benar – benar bergetar
setiap kali mulut mu menucapkannya
atau malah dirimu selalu melewatkan setiap kali hatimu membawa pikiranmu mengembara kesana
Ismail
coba…
gembalakan hatimu dalam padang sabana kesucian
sehingga engkau benar – benar tau
bahwa dirimu sedang dalam kerugian
sunguh…..!
kecuali engkau tergolong orang-orang yang saling tolong menolong dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran
Ismail
benarkah kau anugrahkan
sholatmu untuk Nya
ibadahmu untuk Nya
hidupmu untuk Nya
dan, matimu kau anugrahkan untuk Nya
atau dirimu akan membiarkan
sholatmu tercecer dalam kelalaian
ibadahmu membara dalam ketidak ikhlasan
hidupmu mengusut dalam kekerdilan
sehinga, matimu menggenang dalam siksaan
atau, barangkali akan kau jadikan mereka sebagai kendaran menuju kehidupan yang abadi
maka, renung dan perhitungkanlah
29 November 2010
Ismail Marzuqi , Mahasiswa STAIDA Jurusam Manajemen Pendidikan Islam,
PUISI SUMPAH PEMUDA
SUMPAH PEMUDA
“Kami Poetra dan Poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah satoe, tanah air Indonesia”
Sumpah gegap dalam tumpahan darah
Kucur keringat besemai di ranting – ranting air mata
Sebelumnya kami adalah kepingan trah yang menjulur di ujung lidah-lidah laut kepulauan
Untuk selanjutnya melebur dalam bongkahan bara, panas peluru, desingya tanpa syair
Kami pun kembali ke dalam pelukan pertiwi menggagas bilangan tampa hitungan
Kemudian legak sumpah menghantam dada yang membara
Untuk ladang, sawah pereda pasi, subuh itu
Kami memekikkan tekat keruang tanpa penghalang, kesinggasana tanpa tahta
Sayup – sayup pekik kami membakar kelaliman dalam pelukan penjajah, selebihnya penjilat
“Kami Poetra Poetri dan Poetri Indonesia mengakoe berbangsa satoe, bangsa Indonesia”
Dada kami terhunus
Darahnya menghumus
Memadat dalam tanah pertiwi
Keringat kami memutiara
Memurni dalam laut
Serat demi serat memahati seketsa pertempuran
Kami Poetra dan Poetri Indonesia menjoenjoeng bahasa satoe, Bahasa Indonesia”
Kami bergegas menuju serat teakhir
Tersulam helainya dalam merah putih
Sebelum tercecer dalam kelalaian
20 Otober 2010
Ismail Marzuqi , Mahasiswa STAIDA Jurusam Manajemen Pendidikan Islam,
Friday, 18 March 2011
hari ibu
MUNGKIN PERLU DICETUSKAN HARI BAPAK
Nyaman, rasanya bila kita sudah mendengar teguran merdu dari seorang Ibu. Sunguh, suaranya mampu mencairkan hati yang membatu. Kasih sayangnya bisa merubah pemarah menjadi pemasrah, pemurka menjadi pengiba, merubah setan menjadi sopan. Luarbiasa, itu adalah sebuah kenyamanan. Ibu, menjadi tempat mencurahkan keluh-kesah anak-anaknya., menjadi tempat bermanja, pokoknya menjadi tempat menumpahkan semua masalah.
Mengulas, perjalanan sejarah bermula dari nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, kaum ibu hanya dijadikan kaum pelengkap. Bahkan sampai saat ini, di Jaman modren seperti ini masih banyak kaum Bapak yang memperlakukan kaum Ibu seperti jaman jahiliah. Bahkan mereka memandang kaum Ibu hanya seperti secangkir kopi apabila sudah habis dapat dutuangnya kembali.
Sangat memprihatinkan memang, walau sudah banyak orang yang mengadakan pembelaan terhadap kaum ibu, tetapi tetap saja tuh.......! kaum Ibu dijadikan bulan-bulannan bila kaum Bapak sedang kesal. Bahkan sekarang dalam realita banyak tuh..... kaum Ibu yang rela meniggalkan anak yang masih balita, orang tua yang sudah lanjut, suami tercinta, dan sanak-saudara, untuk pergi keluar Negri, dengan alasan membantu kerja suami. Lagi-lagi kaum bapak.........! tetapi apa yang dilakukan kaum bapak ? Hanya tinggal dirumah duduk onkang-ongkang menggantikan posisi kaum ibu, mulai dari masak, urus anak, mencuci, dan lain sebagainya. Yah.... peling-paling hanya pergi ke ladang sebentar dan pulang lagi, menunggu kiriman dari kaum Ibu yang bekerja di Luar Negri.
Sungguh, menjijikan memang melihat apa yang dilakukan kaum bapak, hanya memandang kaum Ibu sebgai kaum pemenuh kebutuhan hidup.
Menurut saya....................!, Pemerintah harus membuat sesajen.... sebelum itu seluruh pengurus kepemerintahan harus melakukan ritual puasa mutih empat puluh satu hari empat puluh satu malam, setelah itu mengadakan kenduri dengan mengundang sesepun adat seluruh Indonesia mulai dari sabang sampai merauke begitu katanya, hal itu dilakukan untuk menentukan ”Hari dan tanggal peringtan Hari Bapak”. Agar bisa diperingati setiap tahun. Supaya kaum Bapak lebih bisa menghargai, dan menghormati kaum Ibu. Sehingga tidak ada lagi ada yang namanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), atau perceraian karena alasan itu. Jadi kaum ibu derajatnya terangkat.
Oleh
Ismail Marzuqi
Mahasiswa TARBIYAH STAI Darussalam Blokagung Banyuwangi
Nyaman, rasanya bila kita sudah mendengar teguran merdu dari seorang Ibu. Sunguh, suaranya mampu mencairkan hati yang membatu. Kasih sayangnya bisa merubah pemarah menjadi pemasrah, pemurka menjadi pengiba, merubah setan menjadi sopan. Luarbiasa, itu adalah sebuah kenyamanan. Ibu, menjadi tempat mencurahkan keluh-kesah anak-anaknya., menjadi tempat bermanja, pokoknya menjadi tempat menumpahkan semua masalah.
Mengulas, perjalanan sejarah bermula dari nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, kaum ibu hanya dijadikan kaum pelengkap. Bahkan sampai saat ini, di Jaman modren seperti ini masih banyak kaum Bapak yang memperlakukan kaum Ibu seperti jaman jahiliah. Bahkan mereka memandang kaum Ibu hanya seperti secangkir kopi apabila sudah habis dapat dutuangnya kembali.
Sangat memprihatinkan memang, walau sudah banyak orang yang mengadakan pembelaan terhadap kaum ibu, tetapi tetap saja tuh.......! kaum Ibu dijadikan bulan-bulannan bila kaum Bapak sedang kesal. Bahkan sekarang dalam realita banyak tuh..... kaum Ibu yang rela meniggalkan anak yang masih balita, orang tua yang sudah lanjut, suami tercinta, dan sanak-saudara, untuk pergi keluar Negri, dengan alasan membantu kerja suami. Lagi-lagi kaum bapak.........! tetapi apa yang dilakukan kaum bapak ? Hanya tinggal dirumah duduk onkang-ongkang menggantikan posisi kaum ibu, mulai dari masak, urus anak, mencuci, dan lain sebagainya. Yah.... peling-paling hanya pergi ke ladang sebentar dan pulang lagi, menunggu kiriman dari kaum Ibu yang bekerja di Luar Negri.
Sungguh, menjijikan memang melihat apa yang dilakukan kaum bapak, hanya memandang kaum Ibu sebgai kaum pemenuh kebutuhan hidup.
Menurut saya....................!, Pemerintah harus membuat sesajen.... sebelum itu seluruh pengurus kepemerintahan harus melakukan ritual puasa mutih empat puluh satu hari empat puluh satu malam, setelah itu mengadakan kenduri dengan mengundang sesepun adat seluruh Indonesia mulai dari sabang sampai merauke begitu katanya, hal itu dilakukan untuk menentukan ”Hari dan tanggal peringtan Hari Bapak”. Agar bisa diperingati setiap tahun. Supaya kaum Bapak lebih bisa menghargai, dan menghormati kaum Ibu. Sehingga tidak ada lagi ada yang namanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), atau perceraian karena alasan itu. Jadi kaum ibu derajatnya terangkat.
Oleh
Ismail Marzuqi
Mahasiswa TARBIYAH STAI Darussalam Blokagung Banyuwangi
ritual penjamasan
sebuah upacara adat, pemandian pusaka kanjeng sunan Kali Jaga, upacara ini di laksanakan pada setiap bulan 10 Dulhijah (1o Besar), pada upacara yang penuh kesakralan ini banyak syarat - syarat yang di lakukan....... download disini
puisi salah siapa
Salah siapa
Hujan menangis
menusuki bumi yang terkikis
hutan merajuk
tak lagi melahirkan damar, rotan untuk penghidupan
Laut ..
dulu ombaknya mesra
anginya pun penuh kasih
tapi kimi
laut mengamuk
ombaknya membawa maut
anginya pun mengidungkan kepedihan
dalam tumpukan daging-daging kebusukan
Lalu.....
ini salah siapa.... salah siapa...?
sungguh ini terjadi kerna ulah manusia
Ismail Marzuqi
Pencinta Sastra, Ketua Teater DAS ’51
Peserta SLDP 4 Kaliopak (Mata Pena)
Mahasiswa MPI-STAIDA Blokagung
Hujan menangis
menusuki bumi yang terkikis
hutan merajuk
tak lagi melahirkan damar, rotan untuk penghidupan
Laut ..
dulu ombaknya mesra
anginya pun penuh kasih
tapi kimi
laut mengamuk
ombaknya membawa maut
anginya pun mengidungkan kepedihan
dalam tumpukan daging-daging kebusukan
Lalu.....
ini salah siapa.... salah siapa...?
sungguh ini terjadi kerna ulah manusia
Ismail Marzuqi
Pencinta Sastra, Ketua Teater DAS ’51
Peserta SLDP 4 Kaliopak (Mata Pena)
Mahasiswa MPI-STAIDA Blokagung
puisi adik kecilku
Adik kecilku
Aduk kecilku
Adik kecilku
dimana kita pernah berjumpa
diujung keriduankah
atau malah dalam kebencian
Adik kecilku
Adik kecilku
sesuatu yang tidak ku cium
dirimu mendengarnya
sesuatu yang tidak kudengar
dirimu merasakanya
sesuatu yang tak dapat kurasa
dirimu melihatnya
Adik kecilku
kini sesuatu yang takdapat kulihat telah mati
namun dirimu tetap melihat
gembala-gembala mudaitu
dengan kuasa tuhanmu
Ismail Marzuqi
Pencinta Sastra, Ketua Teater DAS ’51
Peserta SLDP 4 Kaliopak (Mata Pena)
Mahasiswa MPI-STAIDA Blokagung
Aduk kecilku
Adik kecilku
dimana kita pernah berjumpa
diujung keriduankah
atau malah dalam kebencian
Adik kecilku
Adik kecilku
sesuatu yang tidak ku cium
dirimu mendengarnya
sesuatu yang tidak kudengar
dirimu merasakanya
sesuatu yang tak dapat kurasa
dirimu melihatnya
Adik kecilku
kini sesuatu yang takdapat kulihat telah mati
namun dirimu tetap melihat
gembala-gembala mudaitu
dengan kuasa tuhanmu
Ismail Marzuqi
Pencinta Sastra, Ketua Teater DAS ’51
Peserta SLDP 4 Kaliopak (Mata Pena)
Mahasiswa MPI-STAIDA Blokagung
puisi tuhan
TUHAN
Tuhan
bila aku ingat padamu
izinkan aku
mengumandangkan asmamu
mengesakan dzatmu
tuhan
bila aku lupa kepadamu
jangan engkau peringatkan aku dengan ujian
diluar kemampuan jiwa ragaku
sehingga aku jatuh tersungkur
Tuhan
bila tubuh ini kotor
lalu kubasuh dengan telaga istighfarku
bersihkanlah noda-noda dihati
dengan kuasamu
bila aku menggelepar, terpukul, jatuh
bangkitkan aku
dengan selendang kuasa dibalik keridhoanmu
Tuhan
bila engkau mengagap
diriku bersih
izinkan aku memohon
kebaikan dunia akhiratku.
dengan ketidak berdayaanku
Blokagung puncak 31 januari 2010
Ismail Marzuqi
Pencinta Sastra, Ketua Teater DAS ’51
Peserta SLDP 4 Kaliopak (Mata Pena)
Mahasiswa MPI-STAIDA Blokagung
Tuhan
bila aku ingat padamu
izinkan aku
mengumandangkan asmamu
mengesakan dzatmu
tuhan
bila aku lupa kepadamu
jangan engkau peringatkan aku dengan ujian
diluar kemampuan jiwa ragaku
sehingga aku jatuh tersungkur
Tuhan
bila tubuh ini kotor
lalu kubasuh dengan telaga istighfarku
bersihkanlah noda-noda dihati
dengan kuasamu
bila aku menggelepar, terpukul, jatuh
bangkitkan aku
dengan selendang kuasa dibalik keridhoanmu
Tuhan
bila engkau mengagap
diriku bersih
izinkan aku memohon
kebaikan dunia akhiratku.
dengan ketidak berdayaanku
Blokagung puncak 31 januari 2010
Ismail Marzuqi
Pencinta Sastra, Ketua Teater DAS ’51
Peserta SLDP 4 Kaliopak (Mata Pena)
Mahasiswa MPI-STAIDA Blokagung
Wednesday, 16 March 2011
KAWAN
Kawan
Ketika kakimu melangkah
sejengkal palingmu
dari wajahku
di hati ada mayang siwalan
memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran pertemuan kita tak mampu ku lupakan
Kawan
ketika kakimu melangkah
mengejar cita-cita
untaian do'a mengiringi langkahmu
Kawan
jangan pernah salahkan aku
kalau aku merindukanmu
kalau aku tak mampu melupakanmu
keindahan dalam persahabatan kita
bagiku kau bunga yang menyerbak
menyusupi tulang-tulang hatiku
menumbuhkan akar kekuatan
tuk jalani kehidupan selanjutnya
Eggar Tata, blokagung 19 maret 2011
Pecinta Sastra
Peserta LSDP 5 Bantul Yogyakarta
Ketika kakimu melangkah
sejengkal palingmu
dari wajahku
di hati ada mayang siwalan
memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran pertemuan kita tak mampu ku lupakan
Kawan
ketika kakimu melangkah
mengejar cita-cita
untaian do'a mengiringi langkahmu
Kawan
jangan pernah salahkan aku
kalau aku merindukanmu
kalau aku tak mampu melupakanmu
keindahan dalam persahabatan kita
bagiku kau bunga yang menyerbak
menyusupi tulang-tulang hatiku
menumbuhkan akar kekuatan
tuk jalani kehidupan selanjutnya
Eggar Tata, blokagung 19 maret 2011
Pecinta Sastra
Peserta LSDP 5 Bantul Yogyakarta
DIAM
Diam
Tak beranjak
Dari dalam ruang dimensi
Yang tak terjangkau
Seumpama seekor tikus
Jatuh didalam jurang tak terukur
Bisu
Tak bersuara
Dan ataupun hanya serangga semata
Bagia dunia tak memproduksi makhluk bernyawa
Kaku
Tak bergerak
Akh..........!
Hanya monoton
Layakya seonggok mayat
Ya Tuhan.........!
Membosankan!
Kehidupan tanpa bayangan
Akh.........!
Tapi juga apa yang kau inginkan?
Kau sendiri juga tak tau
Kenapa......?
Mengapa.........?
Tak juga kau rubah hidupmu
Tuhan........!
Lagi-lagi kau sebut nama itu
Tapi kau sendiri tak mengagungkan-Nya
Lalu apa maumu?
Kau sendiri tak tau
Lagi-lagi haya diam
Kaku
Bisu
Dan hanya ada kehidupan yang monoton
Akh......!
Ternyata kau memang hanya ingin diam
dan selalu hidup monoton
AHMAD SUHARNO, blokagung 13 maret 2011
Pecinta Sastra.
Tak beranjak
Dari dalam ruang dimensi
Yang tak terjangkau
Seumpama seekor tikus
Jatuh didalam jurang tak terukur
Bisu
Tak bersuara
Dan ataupun hanya serangga semata
Bagia dunia tak memproduksi makhluk bernyawa
Kaku
Tak bergerak
Akh..........!
Hanya monoton
Layakya seonggok mayat
Ya Tuhan.........!
Membosankan!
Kehidupan tanpa bayangan
Akh.........!
Tapi juga apa yang kau inginkan?
Kau sendiri juga tak tau
Kenapa......?
Mengapa.........?
Tak juga kau rubah hidupmu
Tuhan........!
Lagi-lagi kau sebut nama itu
Tapi kau sendiri tak mengagungkan-Nya
Lalu apa maumu?
Kau sendiri tak tau
Lagi-lagi haya diam
Kaku
Bisu
Dan hanya ada kehidupan yang monoton
Akh......!
Ternyata kau memang hanya ingin diam
dan selalu hidup monoton
AHMAD SUHARNO, blokagung 13 maret 2011
Pecinta Sastra.
Tuesday, 8 March 2011
PUISI MUNAJAT
MUNAJAT
Ketika hari mulai gelap
ketika malam terperanjat
kuluangkan waktuku tuk menyebut pada zat pencipta Muhammad
Ketika malam mulai sunyi
guruh berisik jangkrik - jangkrik bernyanyi
hawa dingin menyelimuti
kusisihkan waktuku tuk memuji Ilahirobbi
Ketika malam mulai larut
raga ini terasa mengerucut
ku lepaskan belaian lembut selimut
ku habiskan waktuku tuk menyebut
MUNAWAR, blokagung 05 Januari 2011
Ketika hari mulai gelap
ketika malam terperanjat
kuluangkan waktuku tuk menyebut pada zat pencipta Muhammad
Ketika malam mulai sunyi
guruh berisik jangkrik - jangkrik bernyanyi
hawa dingin menyelimuti
kusisihkan waktuku tuk memuji Ilahirobbi
Ketika malam mulai larut
raga ini terasa mengerucut
ku lepaskan belaian lembut selimut
ku habiskan waktuku tuk menyebut
MUNAWAR, blokagung 05 Januari 2011
Monday, 7 March 2011
IBU
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunpun gugur bersama reranting
hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir
bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sarisari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang meyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
sumur-sumur kering, daunpun gugur bersama reranting
hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir
bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sarisari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang meyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
D.Zawawi Imron
Subscribe to:
Comments (Atom)